23 Semarang: Menata Ulang Pesisir, Menghadirkan Oase di Ruang Kota
- Kategori Induk: LIFESTYLE & LEISURE
- Diperbarui: Selasa, 14 April 2026 22:45
- Ditayangkan: Selasa, 14 April 2026 21:36
- Ditulis oleh adminrumahku
- Dilihat: 109
- Cetak
- 14 Apr
Semarang kaline banjir, jo sumelang ra dipikir. Sepenggal lirik lagu dari Waljinah yang telah lama melekat, kerap diidentikkan dengan kota Semarang selama ini.
Namun, hari ini Semarang sedang menulis cerita berbeda. Kota ini tak lagi sekadar tempat transit; ia sedang berbenah, bersolek, dan menguatkan diri sebagai destinasi wisata unggulan di pesisir Utara Jawa.
23 Semarang hadir sebagai oase di ruang pesisir. (Foto: Susi W)
Tren positif ini tercermin dari data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang yang mencatat kunjungan wisatawan selama libur Nataru 2025 mencapai 469.369 orang, melonjak 30,9% dibanding periode sebelumnya. Angka ini kian dipertegas oleh keramaian Kota Lama pada Lebaran 2026 yang naik 24,7% dengan total 222.856 pengunjung.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menilai tren ini sebagai indikator positif kebangkitan pariwisata kota yang perlu diimbangi dengan penyediaan ruang publik yang berkualitas. Tren ini bukan terjadi sendiri, melainkan bagian dari perubahan besar yang sedang berlangsung di Semarang.
Pergeseran Fungsi dan Ekonomi Kawasan Pesisir
Saat ini terjadi pergeseran gravitasi ekonomi—dari pusat kota yang mulai jenuh menuju kawasan pesisir utara yang progresif. Sejumlah lahan pesisir yang semula berupa tambak ikan, perikanan tangkap, dan ekosistem mangrove seluas ribuan hektar berubah menjadi kawasan urban elit dengan apartemen, mal, dan taman rekreasi, seiring pengembangan reklamasi Pearl of Java (POJ) City di wilayah utara kota Semarang.
Lebih dari perluasan wilayah, fenomena ini adalah sinyal kuat urbanisasi pesisir yang kian masif. Kawasan yang sebelumnya berfungsi sebagai ruang produksi—seperti tambak dan perikanan—kini bersalin rupa menjadi pusat konsumsi pariwisata. Pergeseran ini menghadirkan peluang ekonomi baru, sekaligus turut mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan ruang hidup mereka.

Desain bangunan yang cermat, menghadirkan koridor industri dan pariwisata di kawasan pesisir. (Foto: Susi W)
Arwita Mawarti, S.T, M.T., Kepala Dinas Perindustrian Kota Semarang, menjelaskan bahwa pengembangan kawasan ini juga mempertimbangkan mitigasi banjir rob akibat penurunan tanah (subsidence) dan kenaikan muka air laut. Meski demikian, konversi lahan basah produktif dalam skala besar tetap mendorong perubahan struktur ekonomi masyarakat pesisir—dari sektor perikanan menuju jasa dan pariwisata.
Dampaknya, kawasan pesisir utara Kota Semarang yang semula agraris kini berkembang menjadi koridor industri dan pariwisata, memperluas magnet kota ke arah barat.
Oase Baru di Kawasan Pesisir
Pengembangan kawasan POJ City menjadi representasi paling nyata dari pergeseran ini. Kawasan yang kerap disebut sebagai “PIK-nya Semarang” ini mengusung konsep one-stop living, mengintegrasikan hunian, pendidikan, destinasi wisata, hingga gaya hidup modern. POJ City juga telah dilengkapi restoran tepi laut, beach club, dan ruang terbuka hijau yang menjadi magnet utama bagi warga dan wisatawan.
Mulai Mei 2026, kawasan ini akan semakin hidup dengan hadirnya 23 Semarang, yang merupakan proyek kolaborasi antara Paradise Indonesia (INPP) dan Bina Nusantara.
Menurut Presiden Direktur & CEO Paradise Indonesia Anthony Prabowo Susilo, kehadiran 23 Semarang menunjukkan strategi INPP memperluas portofolio ke Jawa Tengah, melengkapi proyek di Jakarta, Bandung, Bali, Makassar, dan Balikpapan sekaligus memperkuat recurring income.

Arsitektural bangunan yang bernafas, jauh dari kesan masif, dengan permainan maju mundur bidang segitiga. Bahkan sebelum bangunan selesai pengerjaan konstruksinya, keindahan 23 Semarang sudah dapat dirasakan.(Foto: Susi W)
Meski di luar pusat kota, 23 Semarang menjadi penanda pergeseran fungsi ruang urban Semarang. Pusat perbelanjaan ini mengusung konsep sustainable urban lifestyle, mengintegrasikan elemen inovasi, kenyamanan, dan ramah lingkungan dalam satu kesatuan ruang.
Pada hakekatnya manusia membutuhkan tempat untuk bersosialisasi. Namun, ruang terbuka kota yang nyaman kian terbatas oleh faktor lahan, keamanan dan kenyamanan termal. Perubahan gaya hidup pun mendorong pusat perbelanjaan bertransformasi menjadi ruang interaksi baru.
Peluang ini ditangkap dengan baik oleh 23 Semarang dengan mewadahi kebutuhan ruang terbuka yang nyaman, sebagai sarana sosialisasi dan interaksi warga. Kenyamanan ini bukan sekadar hasil desain estetika, melainkan buah dari komitmen keberlanjutan yang lebih mendalam.
Desain Keberlanjutan
Sebagai ruang publik baru, 23 Semarang menjadikan keberlanjutan sebagai fondasi utama perancangannya. Prinsip ini diwujudkan melalui desain arsitektural yang mengimplementasikan konsep ESG (Environmental,Social,and Governance) yang berkomitmen dalam pembangunan dan operasionalnya dengan meminimalisir dampak lingkungan dan mendukung masyarakat lokal.
Konsep berkelanjutan pada bangunan ini dihadirkan lewat penggunaan material ramah lingkungan, RO water management, dan teknologi hemat energi. Penerapan skylight di atrium utama yang memungkinkan pencahayaan alami tanpa meningkatkan panas berlebih, juga penggunaan teknologi pendinginan dan sistem ventilasi modern untuk memastikan kenyamanan termal di dalam bangunan, menjadi wujud penerapan konsep keberlanjutan.

Desain arsitektural bangunan mengimplementasikan konsep ESG, dengan meminimalisir dampak lingkungan dan mendukung masyarakat lokal. (Foto: Susi W)
Anthony mengungkapkan, desain 23 Semarang mampu meminimalisir konsumsi energi dan sumber daya alam, serta memberi prioritas pada pemberdayaan masyarakat. Bangunan ini juga menyediakan ruang terbuka hijau (RTH) dan amfiteater alami di tengah-tengah kompleks bangunan. "Melalui sirkulasi oval yang dinamis, facade bangunan bermotif batik Parang, kolam ikan dan ruang terbuka hijau, supermarket, serta dua atrium luas untuk acara indoor, bangunan ini menghadirkan banyak elemen yang menciptakan beragam pengalaman baru berbelanja dengan environment berbeda," paparnya.
Arsitektur Ikonik dan Ruang Sosial Baru
Tepat di jantung bangunan, pengunjung akan menemukan Urban Forest dan atrium luas yang dilengkapi dengan rooftop publik. Area ini dirancang agar masyarakat bisa kembali menikmati interaksi di ruang terbuka tanpa harus kehilangan kenyamanan.

Penulis menyempatkan diri mengunjungi Proyek 23 di Semarang yang saat ini terus dikebut pengerjaannya guna target pembukaan pada Mei 2026.
23 Semarang mengusung konsep Retail-Oasis yang menawarkan pengalaman berbelanja sekaligus merefleksikan budaya interaksi masyarakat Semarang. Dengan luas bangunan mencapai 65,778 m², pusat perbelanjaan ini menampilkan bentuk oval yang menciptakan identitas visual yang kuat.
Dirancang oleh Aboday Design, fasadnya mengusung komposisi bidang segitiga maju-mundur yang tidak hanya estetis, tetapi juga berfungsi sebagai self-shading untuk meningkatkan kenyamanan termal.
Perkuat Denyut Ekonomi Kawasan
Melalui desain arsitektural dan konsep pendekatan yang unik, Anthony yakin 23 Semarang akan menempati posisi top three pusat perbelanjaan di Semarang. Saat ini tercatat sejumlah tenant ternama sudah memastikan bergabung, termasuk beberapa brand ternama yang baru pertama kali masuk ke Semarang.
Dengan kapasitas 200–250 tenant, 23 Semarang diproyeksikan membuka ribuan lapangan kerja, memperkuat sektor ritel, kuliner, dan jasa. Hal ini selaras dengan visi INPP bahwa setiap proyek bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan bagian dari upaya memperkuat denyut ekonomi masyarakat sekitar.

Tatanan lansekap mendukung kenyamanan beraktivitas di ruang terbuka meski terletak di daerah pesisir (Foto: Susi W)
Dari kota yang dulu lekat dengan cerita banjir dan rob, Semarang kini menata wajah barunya. Kehadiran 23 Semarang bukan hanya menambah deretan bangunan komersial, tetapi melengkapi citra Semarang sebagai kota pesisir dengan destinasi wisata pantai modern dan ekologis. 23 Semarang bukan hanya pusat belanja, tetapi ikon regenerasi pesisir Semarang yang memperluas magnet kota ke arah barat. (Susi Wijayanti)