Home arrow ARSITEKTUR arrow Pentingnya Ventilasi dalam Rumah
Rumahku Edisi Terbaru
 

Image

Image

Image

Image

 

LIFESTYLE & LEISURE
TIPS & ACCESSORIES
PROPERTY & REFERENSI BISNIS
ARSITEKTUR & DESIGN
mediakit
News
menuutama
Newsflashes
FAQs
Subscribe
Unsubscribe



CS-1 (Leni)

CS-2 (Putri)

Redaksi (Susi)

Login Form





Lost Password?
No account yet? Register

Image

Image  

 
Syndicate
Who's Online
We have 2 guests and 1 member online

Image
Image
 
 
Pentingnya Ventilasi dalam Rumah PDF Print E-mail
Saturday, 17 July 2010
ImageRumah yang sehat harus memiliki sirkulasi udara yang baik. Dibutuhkan sistem ventilasi yang mendukung, agar distribusi udara dapat berlangsung lancar. Salah satu kriteria rumah sehat adalah pemenuhan kebutuhan fisiologis berupa pencahayaan, penghawaan dan ruang gerak yang cukup. Tak hanya kualitas pencahayaan yang harus diperhatikan, namun juga sirkulasi udara yang didukung dengan sistem ventilasi yang baik.

            Rumah tinggal yang terletak di daerah beriklim tropis lembab seperti Indonesia, menuntut desain rumah tropis yang mengedepankan sistem pertukaran udara atau ventilasi untuk sebuah kenyamanan. Keberadaan ventilasi sangat penting. Selain memasukkan udara dan cahaya ke dalam rumah, juga sebagai upaya untuk mengurangi atau menghilangkan hawa panas serta membuat penghuni betah.

           Umumnya jenis-jenis ventilasi berupa jendela konvensional, yang terbuat dari kaca atau kayu yang bisa dibuka lebar pada siang hari. Ada juga jendela bouvenliecht , yaitu jendela dengan dua bilah kaca yang terdapat celah diantara keduanya, sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran udara. Selain itu ada juga ventilasi berupa lubang dinding, rooster, atau kusen kayu dengan kisi-kisi horisontal atau vertikal, skylight serta dinding transparan.

ImageImage

           Ventilasi hendaknya dirancang secara tepat. Idealnya, sebuah rumah memiliki jumlah bukaan total antara 15%-20% dari luas tapak. Proporsi tersebut, akan membuat ruang-ruang yang berada di dalam terasa nyaman dan sejuk. Masing-masing ruang memiliki perhitungan berbeda-beda untuk kebutuhan pergantian udaranya. Semisal di kamar mandi yang memiliki kelembaban tinggi, butuh pergantian udara sebanyak enam kali volume ruangnya. Kamar mandi berukuran 2x3x3 = 18, membutuhkan pergantian udara 108 m²/jam. Berbeda dengan kamar tidur, yang hanya membutuhkan pergantian udara sebesar 2/3 volume ruang tiap jamnya. Jadi, bila volume kamar tidur adalah 3x3x3 = 27 m, maka kamar tidur memerlukan pergantian udara 18m²/jam.
            Saat mendesain rumah terkait dengan penempatan ventilasi, perlu memerhatikan beberapa hal, seperti lokasi rumah, arah matahari, arah angin, dan posisi rumah terhadap jalan. Posisi jendela harus melihat arah angin dan datangnya cahaya. Misalnya untuk rumah modern yang menggunakan kaca full, sebaiknya ditempatkan di sebelah utara-selatan matahari, agar matahari tidak terlalu menyengat masuk ke dalam rumah. Sesuaikan bentuk dan ukuran jendela dengan peruntukan ruangnya. Ketinggian jendela pada umumnya, berkisar antara 75-80 cm dari lantai.Untuk ruang keluarga, cocok menggunakan jenis jendela lebar dan berketinggian rendah, yaitu antara 40-50 cm dari lantai. Di ruang keluarga, fungsi jendela bisa disatukan dengan pintu. Gunakan deretan pintu kaca yang sekaligus berfungsi sebagai jendela, misalnya bentuk pintu sliding.
            Bagaimana jika ruangan tidak memungkinkan dibuat bukaan karena letaknya menempel dengan rumah tetangga? Anda bisa menggunakan exhaust fan atau ventilating fan (penyedot udara) untuk mengatur sirkulasi udara. Terdapat beragam jenis exhaust fan. Ada yang dipasang di dinding (wall mount), di plafond (ceiling mount) dan di jendela (window mount). Letakkan exhaust fan, bersilangan dengan bukaan depan, agar perputaran udara bekerja dengan maksimal. Jika menggunakan AC, sebaiknya tidak difungsikan secara bersamaan dengan exhaust fan. Karena selain udara sejuk AC akan tersedot olehnya, konsumsi listrik pun akan menjadi berlipat. Pada dasarnya fungsi bukaan untuk menghasilkan ventilasi. Agar hasilnya efektif, bukaan harus dirancang secara tepat.

ImageImage

1. Jenis bukaan.

Selain pintu dan jendela sebagai bukaan pada dinding, ada juga skylight sebagai bukaan pada atap. Skylight bisa ditempatkan di ruangan yang tidak berbatasan langsung dengan ruang luar, seperti misalnya koridor atau kamar mandi.


2. Posisi yang tepat.

Penempatan bukaan harus memperhatikan kondisi lingkungan, yaitu arah matahari, arah angin, letak halaman depan atau belakang, serta tata letak ruang.
Panas matahari sore yang terjadi antara pukul 12.00-16.00 cukup mengganggu. Karena itu, hindari menempatkan bukaan atau bidang transparan pada sisi barat. Gunakan penghalang untuk menghindari panas matahari sore secara langsung, yaitu dengan kisi-kisi atau secondary skin dengan beberapa variasi desain dan material.

3. Besar Bukaan.

Bukaan yang lebar akan memasukkan cahaya dan udara secara maksimal. Namun, cermati arah angin dan matahari. Jangan sampai, terlalu banyak cahaya dan angin yang masuk akan membuat silau dan mengganggu kenyamanan dalam ruangan. Agar efektif, atur besarnya bukaan. Bisa lewat desain bukaan, misalnya dengan penempatan kisi-kisi atau jalusi agar udara masuk dapat diatur.


4. Estetika.

Penempatan bukaan akan mempengaruhi “wajah” rumah. Desain bukaan yang tepat akan menjadi nilai estetika sebuah rumah. Jumlah, bentuk, ukuran, bahan, dan warna bukaan juga harus diselaraskan dengan konsep arsitektur hunian.


5. Keamanan.

Tempatkan bouvenliecht pada bagian atas dinding, atau tambahkan teralis pada jendela dan atap innercourt agar terjamin terjamin keamanan.

ImageImage

Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat ventilasi yang baik.
1. Buat sirkulasi udara terus mengalir di setiap ruang.
Udara yang masuk ke dalam ruangan harus dapat keluar dengan mudah. Udara yang terjebak dalam ruangan, membuat ruangan menjadi lembab.
2. Ventilasi silang.
Pergerakan udara mengalir secara horisontal dalam ruangan, melalui dua dinding yang saling berhadapan. Dibutuhkan jendela atau bukaan yang saling berhadapan dalam sebuah ruangan, untuk dapat menghasilkan ventilasi silang. Sehingga, udara yang masuk dari satu jendela akan langsung dialirkan keluar oleh jendela yang ada dihadapannya.
3. Sirkulasi Udara secara horisontal.
Udara panas yang ada dalam ruangan biasanya naik ke bagian teratas, sehingga perlu dikeluarkan agar ruangan tidak menjadi panas. Jika ruangan tidak memiliki jendela atau tidak berbatasan langsung dengan udara luar, maka udara panas perlu dikeluarkan melalui plafon. Caranya, buat lubang bukaan di area plafon, di bawah atap atau genteng, agar udara panas dapat keluar.
4. Sirkulasi udara mengalir.
- Buat ruangan atau area terbuka berupa taman atau innercourt, yang menghubungkan antar ruang. Sehingga, udara dapat mengalir dengan bebas baik secara horisontal maupun vertikal.
- Ruangan berplafon tinggi, akan meminimalisir panas dalam ruangan. Tinggi plafon minimal tiga meter, agar ruangan terasa lega dan memudahkan sirkulasi udara.
- Void, juga menjadi sarana udara mengalir antar ruang secara vertikal.
5. Buat kolam.
Adanya kolam dengan air yang bergerak, akan membantu menurunkan suhu ruangan dan menciptakan kesejukan di dalam rumah.

Comments (0)Add Comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
Image
Hunianku
Image
Apartment
Image
Idealhome
Image
Livingestate
 
Rubrikasi
ETALASE
HOME SWEET HOME
TREN DESAIN
ARSITEKTUR
INTERIOR
LAPORAN UTAMA
LIPUTAN KHUSUS
REKOMENDASI
PERBANKAN
PROPERTY
SOROT
FIGUR
ANJANGSANA
BUAH BIBIR
HOME APPLIANCE
INSPIRASI
FLORA & FAUNA
SENI
KONSULTASI
HANG OUT
MANCANEGARA
TIPS
LANSEKAP
COVER STORY
PEMBIAYAAN
POJOK DESAIN
KONSULTASI ARSITEKTUR
KONSULTASI INTERIOR
KONSULTASI FENG SHUI
GAYA HIDUP
INFO
MATERIAL
GALERI
FURNITURE
Wisata
Ragam
FOKUS
ruang
Advertisement
Polling
Polling 1
Polling 2