Paradise Indonesia (INPP) Catat Kenaikan Pendapatan 14% di Q1-2026, Perkuat Dominasi Recurring Income
- Kategori Induk: LIFESTYLE & LEISURE
- Diperbarui: Selasa, 12 Mei 2026 15:46
- Ditayangkan: Selasa, 12 Mei 2026 14:52
- Ditulis oleh adminrumahku
- Dilihat: 48
- Cetak
- 12 Mei
Developer properti PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) atau Paradise Indonesia secara resmi memaparkan kinerja keuangan Kuartal I-2026 yang mencatatkan hasil positif signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Pengumuman ini disampaikan bersamaan dengan acara media gathering sekaligus penganugerahan pemenang Journalist Writing Competition 2026 yang berlangsung di Jakarta, Senin (11/5/2026).

Sepanjang triwulan pertama tahun ini, INPP berhasil membukukan total pendapatan mencapai Rp327 miliar, atau naik sebesar 14% secara tahunan (year-on-year/YoY). Pertumbuhan ini merata di seluruh lini bisnis perseroan, mempertegas posisi INPP sebagai salah satu pemain utama di industri properti nasional.
Dominasi Sektor Komersial dan Stabilitas Hospitality
Sektor komersial (ritel) menjadi kontributor terbesar dengan menyumbang 48% dari total pemasukan perusahaan. Lini ini membukukan pendapatan sebesar Rp157 miliar, melonjak 19% secara YoY. Angka tersebut menjadi indikator kuat bahwa permintaan pasar terhadap ruang komersial tetap tinggi di awal tahun 2026.
Di sisi lain, sektor hospitality (perhotelan) menyumbang 42% terhadap total pendapatan dengan angka mencapai Rp136 miliar. Meski kenaikannya berada di angka 4% secara YoY, sektor ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat stabil dalam menunjang basis pendapatan berulang (recurring income) perusahaan.
“Recurring income kita lebih besar dibandingkan developer lain,” ujar Surina, Direktur Paradise Indonesia, saat memberikan penjelasan mendalam mengenai laporan keuangan perseroan. Saat ini, kontribusi recurring income INPP tetap terjaga di kisaran 90%, sebuah angka yang menjamin stabilitas arus kas perusahaan dalam jangka panjang.
Pertumbuhan Progresif di Sektor Properti
Meskipun lini penjualan properti menyumbang porsi terkecil sebesar 10%, sektor ini mencatatkan pertumbuhan paling progresif dengan kenaikan mencapai 38% secara YoY. Hal ini menunjukkan adanya percepatan penyerapan pasar pada proyek-proyek residensial maupun ruko yang sedang dikembangkan oleh Paradise Indonesia.
Strategi Ekspansi: Dari 23 Semarang hingga 88 Plaza Balikpapan
Presiden Direktur & CEO Paradise Indonesia, Anthony Prabowo Susilo, menekankan bahwa pertumbuhan ini didukung oleh strategi ekspansi terukur. Fokus tahun ini tertuju pada peresmian 23 Semarang yang dijadwalkan menerima kunjungan pertama pada 23 Mei 2026 dan grand opening pada 13 Juni 2026. Mal ini diprediksi akan menjadi leisure destination terbesar di Jawa Tengah.

Sebagai perwujudan ide Anthony Prabowo Susilo tentang "Jewel of Paradise", 23 Semarang menawarkan pengalaman ritel yang unik:
Aksesibilitas Cerdas: Bekerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang untuk penyediaan sarana transportasi umum langsung ke lokasi.
Desain Praktis: Mengusung filosofi desain "Jauh di Mata, Dekat di Kaki". Area drop-off kendaraan diarahkan langsung ke lantai dua, sehingga pengunjung dapat mencapai jantung aktivitas mal hanya dengan menaiki satu eskalator ke atas atau ke bawah.
Tenant Baru: Menghadirkan brand yang pertama kali hadir di Semarang, seperti Sate Khas Senayan, Chagee, Golf House, dan Sleep & Co.
Selain itu, INPP juga mulai menggarap pasar Kalimantan melalui proyek 88 Plaza Balikpapan. Dengan luas lahan 8 hektar, proyek low density development ini baru saja meluncurkan Ruko Asthon sebanyak 49 unit.
88 Plaza Balikpapan: Model Baru Low Density Development
88 Plaza menandai kehadiran INPP di kota kedelapan mereka berkarya. Nama "88" merujuk pada luas lahan sebesar 8 Hektar, bentuk site yang menyerupai angka 8, serta lokasinya di kota kedelapan bagi INPP.
Dirancang sebagai distrik urban dengan konsep open plaza, 88 Plaza menggabungkan area bisnis, gaya hidup, dan ruang publik dalam kawasan terpadu yang inklusif. Anthony menjelaskan bahwa membangun ruko jauh lebih sederhana dari sisi cash flow dan tekanan operasional dibandingkan proyek mixed-use skala besar.

"Strategi kami adalah membangun secepat penyerapan pasar. Per fase membutuhkan investasi sekitar Rp100-150 Miliar. Minggu lalu, peluncuran perdana Ruko Asthon sebanyak 49 unit langsung terjual habis (sold out). Kami berharap modus operandi ini bisa menjadi model baru low density development yang sesuai dengan daya serap pasar di daerah masing-masing," ujar Anthony.
"Kami mengembangkan aset dengan karakter pendapatan berulang untuk menjaga kualitas pendapatan di tengah dinamika industri. Di saat yang sama, kami membangun proyek properti baru secepat penyerapan market untuk menjaga efisiensi cash flow," tambah Anthony.
Menuju Masa Depan dengan "Lifestyle Habitat"
Melalui keberhasilan pengembangan proyek dari skala high density ke low density, Paradise Indonesia optimis dapat terus tumbuh di atas rata-rata industri. Perseroan yang kini memiliki 26 unit bisnis—termasuk 6 mal, 13 hotel, dan 6 properti lainnya—berkomitmen untuk terus menambah minimal satu lini bisnis baru setiap tahunnya sebagai motor penggerak pendapatan di masa depan.